Filosofi Pendakian Gunung

Kenapa mendaki gunung? Sebagian orang mungkin berpendapat kalau mendaki gunung adalah hal yang buang-buang waktu, kurang kerjaan, dll. Mendaki gunung juga hal yang berbahaya yang terkadang mampu merenggut nyawa pendaki. Tapi kenapa mendaki gunung tetap saja dilakukan? Saya sendiri secara pribadi juga tidak dapat menjelaskannya. Pernah suatu saat saya merasa frustasi, marah, ataupun takut ketika mendaki. Rasa lelah dan pegal pasti menjadi menu selanjutnya ketika sudah turun. Namun, tak tahu kenapa justru pertanyaan ini selalu muncul  terutama ketika waktunya liburan

“ Kapan mendaki lagi ?”

Mendaki memiliki filosofi tersendiri. Sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran. Dan bagiku mendaki merupakan jalan mengenali dan memperbaiki diri.

Jika kita ingin tahu lebih jelas mengenai sifat asli diri sendiri atau orang lain mendaki merupakan cara yang tepat untuk mencari jawaban. Di atas sana dibawah tekanan alam, kita bisa menyembunyikan karakter asli kita. Kita akan menjadi diri sendiri, sepenuhnya tanpa.

Jika egois, maka di atas sana kita hanya mementingkan diri sendiri.

Jika penakut, maka di atas sana kita pun akan banyak diam.

Jika pengeluh, maka kita tidak akan berhenti mengeluh sepanjang perjalanan.

Dari situlah kita akan semakin tahu kekurangan dan kelebihan diri masing-masing, dan kemudian kita bisa saling introspeksi diri.

Ya benar, mendaki gunung tak jauh berbeda dengan kehidupan. Terkadang  kita melewati tanjakan yang terjal, hingga kita hampir-hampir  menyerah, terkadang juga kita menyusuri jalanan di tepi jurang, harus hati-hati  melangkah karena jika tidak  bisa terpeleset. ketika terpeleset mampukah kita melanjutkan perjalanan, atau memilih mundur dan turun untuk selanjutnya pulang.

Terkadang melewati turunan yang curam, terkadang hanya padang ilalang datar ratusan meter. Terkadang harus berhenti untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang. Seperti halnya hidup, ketika menempuh perjalanan kita banyak mengeluh karena capek atau menikmati saja pemandangan sekitar. itu adalah pilihan. dengan jalur yang sama, beban yang sama, sikap pendaki satu dengan yang lain tentu akan berbeda.beratnya beban di punggung adalah bekal kita. Tidak murah memang segala bekal kita namun sangat sepadan dengan apa yang akan kita nikmati selama mendaki gunung.

Apa yang dicari antara satu pendaki dengan pendaki yang lain juga tidak sama. Ada yang memang mencari ketenangan, ada yang mencari panorama alam, ada yang mencari pengakuan, bahkan ada yang mencari kesaktian. Bagi saya panorama indah di pegunungan merupakan pendamai hati yang luar  biasa terutama proses terbenam atau terbitnya matahari. Hal itulah yang saya cari dalam pendakian. Berdiri di atas awan, memandang cakrawala membentang. Mensyukuri nikmat Tuhan.

Terinspirasi oleh seorang senior, Andriy Subie…

 

 

 

 

About pipsaputra

mahasiswa kedokteran fk unair angkatan 2008...

Posted on February 8, 2012, in Outdoor And Adventure. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. “kapan mendaki lagi??”🙂
    aku melihat fotoku di post yang ini,,ahahahahha…
    ayo muncak maneh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: