Pelajaran Dari Penjual Asongan

ilustrasi pedagang asongan

Semester 7 selesai, liburanpun dimulai. Seperti tahun lalu kurang lengkap rasanya kalau liburan tanpa berkunjung ke Yogyakarta. ya meskipun cuma sempat satu bulan tinggal dikota itu, tetapi suasananya tetep bikin kangen (beda sama surabaya meski hampir 3,5 tahun tapi ga dapet-dapet feelnya). Untuk liburan kali ini kuhabiskan 3 hari di Yogyakarta.

Sebenarnya ga ada yang istimewa sih kalo ke jogja. Paling cuma muter-muter trus cari kuliner yang ga ada di Surabaya. Yang spesial cuma bisa kumpul sama teman-teman SMA melepas kangen, tau kabar masing-masing, dan sedikit membicarakan masa depan.

Untuk liburan kali ini alhamdulillah banyak manfaat yang dapat diambil. Salah satunya ketika perjalanan pulang ke surabaya. Karena tiket kereta bisnis sancaka sore habis, aku memilih untuk naik kereta ekonomi pasundan. Namanya kereta ekonomi, biasa banyak pedagang asongan dan pengamen yang ga ada hentinya. Hilang muncul lagi ga ada habisnya.

Sampai suatu ketika ada ibu-ibu pedagang asongan. Karena berjalan bolak balik dari satu gerbong ke gerbong lainnya ibu pedagang itu keliatan capek. Beliau mengusap keringat di kening kemudian meminta izin untuk duduk di bangku kosong yang ada didepanku. Kemudian ibu itu duduk dan meletakkan barang dagangan yang masih banyak.

Awalnya sih biasa saja aku memilih diam, bicara seperlunya. Duduk di sebelah jendela sambil melihat pemandangan. Ya karena itu caraku menikmati perjalanan, bukan bermaksud sombong atau apa. Sampai suatu ketika ada seorang tua yang berjalan. Seorang tua tersebut ternyata buta dan untuk berjalan beliau harus menggunakan tongkat. Beliau minta sedekah dari penumpang kereta. Kulihat kebanyakan penumpang cuek gitu aja.

Sampai ketika orang tua itu datang di deretan tempat dudukku. Sebenarnya aku mau ngasih tetapi orang tua tersebut tidak menghadap ke arah tempat dudukku. jadi uang tersebut tak jadi kuberikan dan hanya berada digenggam tanganku saja. Kemudian kulihat ibu pedagang asongan sibuk merogoh isi tasnya. Membolak-balik isi dalam tas untuk beberapa saat. Akhirnya apa yang beliau cari sudah ketemu, kulihat ibu itu mengambil uang kertas (ga tau berapa nominalnya, ya kalau kertas pasti lumayanlah).

Ibu tadi kemudian bangkit kemudian meninggalkan dagangan dan tempat duduknya. dari tempat dudukku aku melihat ternyata ibu itu mengejar seorang tua tadi dan memberikan uang. Melihat kejadian itu aku merasa malu. Hanya karena seorang tua tadi tak menghadap ke arahku niat baikku langsung kuurungkan. Bandingkan dengan ibu penjual tadi yang berlari menghampiri seorang tua tersebut. Dari jumlah nominal uang yang kusiapkan hanya recehan sedangkan ibu tadi uang kertas. Padahal ibu penjual asongan ini harus berjalan dari gerbong ke gerbong untuk mencari rezeki namun beliau masih tetap menyisakan kepada orang lain. Subhanallah…

About pipsaputra

mahasiswa kedokteran fk unair angkatan 2008...

Posted on February 6, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: