Cerita Yopa

Yopa Intan Purnamasari adalah seorang anak tunagrahita ringan dengan suspek epilepsi dan retardasi mental. Yopa  lahir di Gunung Kidul 17 Januari 1997 yang lalu. Yang menonjol darinya adalah hobinya menulis mengenai pengalaman pribadinya sendiri ataupun dari cerita orang lain termasuk pendidiknya. Dibantu oleh gurunya, Eny Kusumawati, S.Pd. karya Yopa telah diterbitkan dalam sebuah buku “ Mencari Harapan”. Beberapa gambar di bawah adalah salah satu cerita Yopa di buku tersebut.

 

 

Mengenal Anak Berkebutuhan Khusus

Sore ini kemarin iseng main ke sekolah dasar Luar Biasa di kampung saya. SLB tersebut bernama SLB Ikhlas Dharma Bakti. Awalnya sih cuma kepengen ngenet karena ada kiriman email yang harus saya buka dan di SLB itulah tempat terdekat untuk mengakses internet. Namun, begitu masuk ruangan terbesit beberapa pertanyaan mengenai anak berkebutuhan khusus. Apa saja yang tergolong anak-anak berkebutuhan khusus? Bagaimanakah masa depan mereka? Tampaknya saya masih belum peka terhadap keberadaan mereka.

“ anak-anak berkebutuhan khusus boleh jadi memang cacat, tapi jangan pernah cacatkan mereka”.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatank termasuk epilepsi,dll. Karena keterbatasan yang mereka miliki mereka harus mendapatkan pendidikan yang khusus. SLB (Sekolah Luar Biasa) merupakan tempat bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan dan keterampilan.

Di dalam SLB mereka dikelompokkan menjadi kelas-kelas tertentu sesuai dengan kekhususan mereka. Pembagian tersebut antara lain:

  • SLB bagian A untuk tunanetra dimana mereka membutuhkan modifikasi tertentu untuk membaca yaitu huruf Braille.
  • SLB bagian B untuk tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.
  • SLB bagian C untuk tunagrahita yaitu individu yang memiliki intelegensi yang signifikan dibawah rata-rata disertai dengan ketidakmampuan adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan. Pembelajaran untuk tunagrahita ditujukan pada kemampuan bina diri dan sosialisasi.
  • SLB bagian D untuk tunadaksa yaitu orang dengan kelainan neuromuskular oleh karena kongnital (bawaan), penyakit ( cerebral palsy, polio, dll), kecelakaan, amputasi.
  • SLB bagian E untuk tunalaras yaitu orang dengan gangguan kontrol emosi sedangkan SLB bagian G untuk cacat ganda.

 

Di SLB ikhlas dharma Bakti sendiri terdapat 27 siswa aktif. Kebanyakan mereka tergolong bagian C dengan derajat yang berbeda-beda termasuk disini syndroma down. Ada yang bisa dididik dengan baik ada pula yang sama sekali tidak dapat. Kondisi di atas juga menentukan target pendidikan mereka. Bagi anak dengan kondisi yang mampu dididik, mereka akan dibekali dengan keterampilan sedangkan yang tidak target mereka adalah mampu mengurusi diri sendiri termasuk mengganti pakaian, membersihkan diri, dll sehingga tidak tergantung orang lain. Gambar diatas merupakan pekerjaan dari dua siswa yang berbeda. Sebelah kiri tuna grahita derajat sedang sedangkan yang kanan tunagrahita derajat ringan.

Ketika saya menanyakan latar belakang keluarga siswa kepada salah seorang pendidik, beliau menjawab ya bagaikan sudah jatuh tertimpa tangga. Sebagian besar siswa-siswi di SLB tersebut berasal dari keluarga kurang mampu. Mungkin hal ini sesuai dengan teori-teori yang saya dapat di bangku kuliah. Karena kurangnya nutrisi di masa kehamilan menjadikan peluang bayi lahir cacat lebih besar. Namun, apakah takdir Allah harus disalahkan? Tentu tidak, yang menjadi tantangan bukanlah menjadikan mereka normal tetapi bagaimana mereka dapat mandiri dan hidup seperti orang normal.

 

SLB Ikhlas Dharma Bakti sering mendapatkan pesanan untuk membuat tas, tutup gelas, dll. Kerajinan-kerajinan tersebut dikerjakan oleh siswa-siswi sendiri dan hasilnya nanti dibagikan kepada mereka. Untuk ke depannya mungkin akan dibangun sebuah sentra kerajinan tangan untuk siswa-siswi yang telah lulus.

 

Pada akhirnya, bagi yang terlahir normal tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur. Kesempurnaan fisik dan mental merupakan anugerah yang luar biasa. Nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

 

Syair Imam Syafi’i Mengenai Pergaulan

Jagalah jiwa dan bawalah ia kepada hal yang akan menghiasinya

Niscaya kau hidup selamat dan reputasimu menjadi baik

Jika hanya berbasa-basi dalam pergaulan manusia

Maka masa akan menjauh dan teman akan bersikap keras kepadamu

Jika rezeki hari ini sedikit bersabarlah hingga hari esok

Semoga petaka zaman akan hilang darimu

Tak ada kebaikan dalam mencintai seseorang yang banyak tingkah

Kemana angin bertiup, ia akan ikut ke sana

Berapa banyak saudara saat kau hitung

Akan tetapi saat kau ttertimpa petaka, mereka tampak sedikit

*Bergaul dengan manusia memerlukan latihan dan kesabaran yang besar. Saat kita sejahtera, kita akan melihat banyak teman dan saudara. Tetapi saat musibah menimpa, mereka menjadi sedikit.

yu’e Nias 68

“Kalau rajin nolong orang nanti Allah yang nolong kita”

Suparmi, Yu’e Nias 68

Alas Purwo, Antara mistis dan Pesona Keindahannya

Alas purwo termasuk salah satu kawasan taman nasional yang ada di jawa Timur.  Alas Purwo terletak di Kabupaten Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa. Taman nasional ini terkenal oleh karena keangkerannya. Banyak cerita mistis yang beredar seputar keangkeran alas purwo. Bagi orang jawa alas purwo merupakan salah satu tempat favorit melakukan “lelakon”. Mitos lain mengatakan bahwa di daerah alas purwo tinggal manusia kerdil.

Alas purwo merupakan salah satu trilogi tempat wisata di Kabupaten Banyuwangi. Banyak obyek menarik di kawasan ini. Salah satu yang terkenal adalah pantai Plengkung. Pantai ini dianggap salah satu pantai dengan ombak terbaik di dunia. Surga bagi para peselancar.

Setelah “menyelesaikan” kawasan Taman Nasional Meru Betiri, kami menuju ke Alas purwo sekaligus berpamitan dengan ibunya Faiz yang selam 3 hari telah menjamu kami dengan sangat luar biasa. Perjalanan sendiri memakan waktu 3,5 jam. Kami menuju ke Alas Purwo dengan menggunakan mobil elf. Jalan menuju ke Alas Purwo bergelombang dikarenakan tanah yang bergerak.

Memasuki alas purwo tepatnya di kawasan kalipait kami bertanya kepada seorang pejalan kaki apakah jalan yang kami tempuh benar. Orang tersebut hanya menjawab “yo” tetapi langsung orang tersebut meminta imbalan. Baru kali ini saya tahu ada orang yang memasang tarif untuk jasa penunjuk jalan. Tampaknya tak ada yang gratis bagi masyarakat sekitar alas purwo. Berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya mereka juga tampak cuek dan acuh tak acuh. Ya, semoga kesimpulan  yang saya buat ini salah.  Tak lama kemudian perjalanan kami dihentikan seseorang yang berjalan ngesot dari tepi jalan. Orang tersebut tampaknya mengalami gangguan jiwa. Karena duduk di sebelah jendela, aku dapat melihat jelas penampilan orang tersebut. Sepintas terdapat keanehan dengan orang tersebut. Rambutnya memanjang tetapi digulung dengan pola tertentu. Matanya melotot dan bibirnya komat kamit dan terkadang mendesis. Si supir (kakaknya Faiz) bilang mungkin orang tersebut gagal melakukan “lelakon” sehingga “lalijiwo” (lupa jiwa).

Perjalanan kami lanjutkan. Di tengah perjalanan terjadi insiden. Mobil elf yang kami tumpangi terperosok ke tepi jalan dan menghantam pangkal pohon. Kebetulan benturan itu terjadi di sebelah tempat dudukku di depan. Mobil langsung berhenti dan pintu depannya “penyok”. Kaca pintu samping juga pecah. Kami berhenti sejenak untuk memperbaiki keadaan mobil. Kaca yang pecah dibersihkan sekalian serta pintu yang penyok di ratakan apa adanya biar tidak mengganggu perjalanan. Kejadian ini menimbulkan sedikit ketakutan bagi sebagian anggota rombongan apalagi dikaitkan dengan mitos angkernya alas purwo. Namun, tidak lama kemudian suasana kembali seperti biasa dan kami melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai ke pintu masuk taman nasional Alas Purwo. Biaya retribusinya sebesar 6000 per orang. Tujuan kami yang pertama adalah pantai plengkung. Pantai yang terkenal akan keindahan ombaknya. Sebelum ke Plengkung kami harus menembus hutan menuju ke pantai pancur. Dari pantai pancur perjalanan diteruskan dengan mencharter mobil pick up. Sebelumnya kami menunaikan sholat dhuhur dan ashar (jama’) di masjid al-purwo. Sambil menunggu antrian toilet dan wudhu kami mengamati seseorang yang mungkin penjaga masjid atau petapa  yang sedang duduk di pojok halaman masjid. Rambutnya panjang dengan udeng di kepalanya. Bajunya serba hitam. Terlihat mistis pokoknya.

Karena hanya muat untuk 10 orang kami harus bergantian naik pick up. Saya memilih menjadi rombongan yang kedua. Jarak tempuh dari pancur ke plengkung sekitar 12 km. Supir pick up bilang mungkin waktu tempuhnya sekitar 30 menit. kemudian rombongan pertama berangkat. Sambil menunggu saya tidur dulu di pelataran pantai pancur sedangkan beberapa teman yang lain melihat-lihat keindahan pantai pancur. Di pantai pancur terdapat muara sungai yang menuju ke laut dengan pohon-pohon besar di sampingnya menjadi atap dari sungai. Rindang dan indah. Sayang di bagian pasir pantainya yang putih bertebaran sampah.

Hampir 2 jam lebih pickup yang mengantar rombongan pertama baru kembali. Dilihat dari waktunya kami khawatir jika kami ke plengkung waktunya tidak mencukupi karena setelah ini kami berencana melihat banteng dari menara. Banteng biasanya berangkat ke padang rumput pagi hari jam 6-7 dan kembali dari pukul 5-6. Oleh karena itu kami tidak mau membuang-buang waktu di pantai plengkung. Setelah melewati jalan becek dan menurun rombongan 2 sampai di pantai plengkung. Ternyata pantainya tidak seindah yang dibayangkan. Kami kurang beruntung karena kami datang tidak tepat pada musim berselancar. Kami langsung saja kembali ke pancur. Untuk menghemat waktu sebagian dari rombongan kembali ke pancur dengan menggunakan grandong. Kendaraan berdiesel untuk mengangkut bambu. Saya sendiri memilih naik grandong dan duduk di bangku depan. Melihat keindahan alas purwo dengan cara sedikit berbeda.

Pukul 16.30 kami sampai di pantai pancur. Kami melanjutkan perjalanan ke menara observasi banteng dan satwa liar lainnya. Letaknya dekat dengan pintu masuk ke taman nasional alas purwo. Di tengah perjalanan kami melihat sebuah pohon besar (diameternya mencapai 5 m) tumbang di pinggir jalan. Bekas akar tersebut membuat sebuah lubang yang cukup besar. Berbeda dengan karakter hutan di meru betiri, hutan di alas Purwo relatif lebih tipis dan sebagian merupakan hutan buatan terutama bagian yang mendekati pos penjagaan.

20 menit perjalanan kami sampai di menara untuk observasi banteng.  Kawasan Alas Purwo memang area khusus untuk menjaga kelestarian banteng. Banteng di sini dibiarkan bebas di suatu sabana yang luas. Para penjaga membuat pagar tertentu dan menara untuk observasi. Setelah registrasi kami langsung menuju ke menara tersebut. Beruntung bagi kami datang di waktu yang tepat sehingga dapat melihat banteng liar dengan jumlah yang lumayan banyak.  Ada perbedaan antara banteng jantan dan betina. Selain ukuran warna rambut banteng jantan hitam gelap sedangkan yang betina kecoklatan seperti sapi bali.  Selain banteng dari menara tersebut terlihat satwa-satwa yang lain seperti burung merak dan burung alalp-alap yang sedang terbang. Sabana yang membentang dibatasi oleh bukit dengan hutan yang lebat. Pemandangan yang sudah sangat jarang di pulau jawa dan semoga kelestariannya selalu terjaga. Pukul 17.35 kami harus meninggalkan alas purwo. Untuk selanjutnya makan-makan di nenek dan sepupunya Rendra. Alhamdulillah makan gratis lagi. Selepas itu, kami harus berpisah ada yang kembali ke Surabaya ada yang melanjutkan perjalanan ke Bali dan Lombok termasuk saya di dalamnya.






Filosofi Pendakian Gunung

Kenapa mendaki gunung? Sebagian orang mungkin berpendapat kalau mendaki gunung adalah hal yang buang-buang waktu, kurang kerjaan, dll. Mendaki gunung juga hal yang berbahaya yang terkadang mampu merenggut nyawa pendaki. Tapi kenapa mendaki gunung tetap saja dilakukan? Saya sendiri secara pribadi juga tidak dapat menjelaskannya. Pernah suatu saat saya merasa frustasi, marah, ataupun takut ketika mendaki. Rasa lelah dan pegal pasti menjadi menu selanjutnya ketika sudah turun. Namun, tak tahu kenapa justru pertanyaan ini selalu muncul  terutama ketika waktunya liburan

“ Kapan mendaki lagi ?”

Mendaki memiliki filosofi tersendiri. Sebuah perjalanan yang kaya akan pelajaran. Dan bagiku mendaki merupakan jalan mengenali dan memperbaiki diri.

Jika kita ingin tahu lebih jelas mengenai sifat asli diri sendiri atau orang lain mendaki merupakan cara yang tepat untuk mencari jawaban. Di atas sana dibawah tekanan alam, kita bisa menyembunyikan karakter asli kita. Kita akan menjadi diri sendiri, sepenuhnya tanpa.

Jika egois, maka di atas sana kita hanya mementingkan diri sendiri.

Jika penakut, maka di atas sana kita pun akan banyak diam.

Jika pengeluh, maka kita tidak akan berhenti mengeluh sepanjang perjalanan.

Dari situlah kita akan semakin tahu kekurangan dan kelebihan diri masing-masing, dan kemudian kita bisa saling introspeksi diri.

Ya benar, mendaki gunung tak jauh berbeda dengan kehidupan. Terkadang  kita melewati tanjakan yang terjal, hingga kita hampir-hampir  menyerah, terkadang juga kita menyusuri jalanan di tepi jurang, harus hati-hati  melangkah karena jika tidak  bisa terpeleset. ketika terpeleset mampukah kita melanjutkan perjalanan, atau memilih mundur dan turun untuk selanjutnya pulang.

Terkadang melewati turunan yang curam, terkadang hanya padang ilalang datar ratusan meter. Terkadang harus berhenti untuk melepas lelah setelah perjalanan panjang. Seperti halnya hidup, ketika menempuh perjalanan kita banyak mengeluh karena capek atau menikmati saja pemandangan sekitar. itu adalah pilihan. dengan jalur yang sama, beban yang sama, sikap pendaki satu dengan yang lain tentu akan berbeda.beratnya beban di punggung adalah bekal kita. Tidak murah memang segala bekal kita namun sangat sepadan dengan apa yang akan kita nikmati selama mendaki gunung.

Apa yang dicari antara satu pendaki dengan pendaki yang lain juga tidak sama. Ada yang memang mencari ketenangan, ada yang mencari panorama alam, ada yang mencari pengakuan, bahkan ada yang mencari kesaktian. Bagi saya panorama indah di pegunungan merupakan pendamai hati yang luar  biasa terutama proses terbenam atau terbitnya matahari. Hal itulah yang saya cari dalam pendakian. Berdiri di atas awan, memandang cakrawala membentang. Mensyukuri nikmat Tuhan.

Terinspirasi oleh seorang senior, Andriy Subie…

 

 

 

 

Syair Imam Syafii Tentang Ilmu

  • Yang Muda Yang Belajar

Bersabarlah menghadapi sikap keras seorang guru

Karena kegagalan ilmu disebabkan oleh ketidaksabaran seorang murid dalam menghadapinya

Siapa yang tidak pernah merasakan pahitnya belajar satu saat saja

Niscaya ia akan menderita sepanjang hidupnya karena kebodohan

Siapa yang tidak belajar di masa mudanya

Maka dirikanlah shalat 4 takbir atas kematiannya

Demi Allah, hidup seorang pemuda dengan ilmu dan ketakwaan

Jika keduanya tidak ada pribadinya tidak bermilai

  • Syarat menuntut Ilmu

Saudaraku engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara

Aku akan menjelaskan kepadamu secara rinci

Kecerdasan, ambisi, kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama

  • Hilangnya Ilmu adalah petaka

Jika ilmu seorang pemuda tidak menambah hidayah di hatinya

Atau tidak membuat hidupnya menjadi lurus dan akhlaknya menjadi baik

Beritakan kepadanya bahwa Allah menimpakan petaka kepadanya

Ia akan ditimpa petaka seperti orang-orang yang menyembah berhala

  • Pemilik Ilmu

Kulihat seorang yang berilmu itu mulia

Walaupun ia dilahirkan oleh bapak yang hina

Ilmu akan terus mengangkatnya dan

Semua kaum yang mulia mengangkatkan derajatnya

Mereka selalu mengikutinya di setiap saat

Seperti penggembala kambing yang diikuti oleh gembalaannya

Tanpa ilmu orang tidak akan bahagia

Yang halal dan haram pun tak dapat dikenali

  • Buruknya Hafalan

Aku mengadukan perihal lemahnya hafalanku kepada waki’*

Ia membimbingku agar aku meninggalkan maksiat

Ia berkata,”Ketahuilah ilmu itu karunia dan karunia Allah tidak diberikan kepada seorang pemaksiat”

Ia juga berkata,”Ketahuilah bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya tidak diberikan kepada seorang pemaksiat”

  • Lautan Ilmu sangat Dalam

Seorang tidak akan mendapatkan semua ilmu

Walaupun ia mencoba mencarinya selama seribu tahun

Lautan ilmu itu sangat dalam

Maka, ambillah yang terbaik saja dari semua hal

 

*sahabat Imam Syafii yang selalu dimintai pertimbangan jika Imam Syafii mempunyai masalah dalam belajar

Pantai Sukamade Pantai Penyu

Setahun yang lalu tepatnya setelah perjalanan dari Pulau Sempu saya memang sudah merencanakan untuk menghabiskan waktu liburan semester 7 di Lombok. Kusisihkan uang 1000 rupiah setiap hari untuk mewujudkan rencana tersebut. Mendekati masa liburan ternyata ada perubahan berkaitan dengan liburan, yang semula hanya di tarjetkan pulau lombok berubah menjadi 3 tempat yaitu Banyuwangi, Bali, dan target awal Lombok.Mungkin masih banyak yang belum tahu kalau sebenarnya Banyuwangi merupakan kabupaten dengan potensi wisata alam yang luar biasa. Ada trilogi tempat wisata di Banyuwangi yang menjadi andalan yaitu Taman Nasional Meru Betiri, Kawah Ijen, dan Taman Nasional Alas Purwo.

Taman Nasional Meru Betiri terletak di bagian barat daya Banyuwangi dan berbatasan dengan Kabupaten Jember. Taman Nasional ini merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki potensi flora, fauna dan ekosistem serta gejala dan keunikan alam yang dapat dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam.

salah satu keunikan yang ada di kawasan ini adalah penangkaran penyu di pantai sukamade. pantai sukamade merupakan 1 dari 9 tempat penangkaran penyu yang ada di Indonesia. Pantai ini merupakan tempat penangkaran penyu semi alami. Berbagai macam jenis penyu yang ditangkarkan yaitu, Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea).

image

penyu hijau

image

penyu sisik

image

penyu belimbing

perjalanan ke pantai sukamade dapat dilakukan dengan menggunakan jeep, pick up, atau bila dalam rombongan dapat menggunakan truk. perjalanannya sendiri sangat mengasyikkan. jalan yang tidak rata membuat tubuh bergoyang-goyang hebat di sepanjang perjalanan. asoy geboy pokoknya apalagi di perjalanan terdapat suguhan satwa liar yang berkeliaran di habitat aslinya. dengan jarak 11 km perjalanan ke sukamade dapat memakan waktu 2-3 jam oleh karena kondisi jalannya yang susah.

mendekati kampung sukamade hutan hujan tropis di kanan kiri jalan mulai tergantikan dengan hutan karet dan tanaman kakau. di desa sukamade memang terdapat pabrik yang mengolah bahan mentah karet. dan tampaknya mata pencaharian warga sukamade memang di perkebunan tersebut.

perjalanan dengan kendaraan dapat lanjut sampai ke area penangkaran atau berhenti di sungai besar kemudian dilanjutkan dengan menyeberang dengan getek dan berjalan kaki sampai ke area penangkaran. dari tempat penangkaran masih dibutuhkan 10 menit berjalan untuk sampai ke pantai sukamade.

pantai sukamade merupakan pantai berpasir putih yang memanjang sekitar 2,5-3 km. pantai tersebut dibagi menjadi dua area untuk memudahkan pencarian telur penyu. pada bulan-bulan tertentu sunset dapat terlihat dengan jelas tergantung posisi matahari. karena merupakan pantai selatan, ombak di pantai sukamade relatif besar. oleh karena itu dilarang mandi di pantai tersebut.

area penangkaran penyu di pantai sukamade dijaga oleh 9 orang tiap malamnya. 5 orang jaga di tempat pennangkaran sedangkan 4 lainnya berkeliling pantai untuk mencari penyu yang bertelur. wisatawan yang berkunjung dapat ikut berburu telur penyu.

penyu bertelur di pantai yang kering oleh karena jika terkena air laut telur penyu sulit menetas. penyu juga takut akan suara dan cahaya. jika ketika mau bertelur penyu terkena sorotan cahaya atau suara berisik maka penyu akan mengurungkan niatnya untuk bertelur. oleh karena itu wisatawan dilarang menyalakan sumber cahaya apapun dan juga membuat gaduh. penyu sendiri memiliki siklus bertelur antara 9 tahun. sekali bertelur penyu mampu menghasilkan ratusan telur. namun dari angka tersebut prosentase menetasnya sangat kecil. hal itu belum ditambah dengan adanya predator alami yaitu biawak ataupun ulah perburuan manusia. dalam penangkaran pun dari pengambilan telur sampai penyu bertahan dewasa perbandingannya hanya 1000:1. artinya dari 1000 telur yang dikeluarkan hanya 1 saja yang mampu bertahan sampai dewasa. oleh karena itu penyu tergolong hewan dengan status konservasi terancam.

penyu bertelur dengan membuat lubang dengan dua kakinya untuk tempat meletakkan telur. stelah selesai bertelur lubang tersebut ditutup dengan gundukan. penyu kemudian membuat gundukan lain di depan tempat telur diletakkan untuk mengelabuhi predator alami. setelah penyu selesai bertelu biasanya petugas konservasi segera mengambil telur dhitung jumlahnya dan dikelompokkan menjadi satu untuk kemudian di tetaskan di tempat penangkatan. telur penyu menetas antara kurun waktu 60-75 hari. kemudian telur tersebut menjadi tukik. tukik dapat dilepas dilaut setelah dilakukan pembiasaan di habitat buatan. kurang lebih 2 minggu tukik dapat dilepas di lautan. kalau beruntung wisatawan juga boleh ikut melepas tukik ke laut.

Pelajaran Dari Penjual Asongan

ilustrasi pedagang asongan

Semester 7 selesai, liburanpun dimulai. Seperti tahun lalu kurang lengkap rasanya kalau liburan tanpa berkunjung ke Yogyakarta. ya meskipun cuma sempat satu bulan tinggal dikota itu, tetapi suasananya tetep bikin kangen (beda sama surabaya meski hampir 3,5 tahun tapi ga dapet-dapet feelnya). Untuk liburan kali ini kuhabiskan 3 hari di Yogyakarta.

Sebenarnya ga ada yang istimewa sih kalo ke jogja. Paling cuma muter-muter trus cari kuliner yang ga ada di Surabaya. Yang spesial cuma bisa kumpul sama teman-teman SMA melepas kangen, tau kabar masing-masing, dan sedikit membicarakan masa depan.

Untuk liburan kali ini alhamdulillah banyak manfaat yang dapat diambil. Salah satunya ketika perjalanan pulang ke surabaya. Karena tiket kereta bisnis sancaka sore habis, aku memilih untuk naik kereta ekonomi pasundan. Namanya kereta ekonomi, biasa banyak pedagang asongan dan pengamen yang ga ada hentinya. Hilang muncul lagi ga ada habisnya.

Sampai suatu ketika ada ibu-ibu pedagang asongan. Karena berjalan bolak balik dari satu gerbong ke gerbong lainnya ibu pedagang itu keliatan capek. Beliau mengusap keringat di kening kemudian meminta izin untuk duduk di bangku kosong yang ada didepanku. Kemudian ibu itu duduk dan meletakkan barang dagangan yang masih banyak.

Awalnya sih biasa saja aku memilih diam, bicara seperlunya. Duduk di sebelah jendela sambil melihat pemandangan. Ya karena itu caraku menikmati perjalanan, bukan bermaksud sombong atau apa. Sampai suatu ketika ada seorang tua yang berjalan. Seorang tua tersebut ternyata buta dan untuk berjalan beliau harus menggunakan tongkat. Beliau minta sedekah dari penumpang kereta. Kulihat kebanyakan penumpang cuek gitu aja.

Sampai ketika orang tua itu datang di deretan tempat dudukku. Sebenarnya aku mau ngasih tetapi orang tua tersebut tidak menghadap ke arah tempat dudukku. jadi uang tersebut tak jadi kuberikan dan hanya berada digenggam tanganku saja. Kemudian kulihat ibu pedagang asongan sibuk merogoh isi tasnya. Membolak-balik isi dalam tas untuk beberapa saat. Akhirnya apa yang beliau cari sudah ketemu, kulihat ibu itu mengambil uang kertas (ga tau berapa nominalnya, ya kalau kertas pasti lumayanlah).

Ibu tadi kemudian bangkit kemudian meninggalkan dagangan dan tempat duduknya. dari tempat dudukku aku melihat ternyata ibu itu mengejar seorang tua tadi dan memberikan uang. Melihat kejadian itu aku merasa malu. Hanya karena seorang tua tadi tak menghadap ke arahku niat baikku langsung kuurungkan. Bandingkan dengan ibu penjual tadi yang berlari menghampiri seorang tua tersebut. Dari jumlah nominal uang yang kusiapkan hanya recehan sedangkan ibu tadi uang kertas. Padahal ibu penjual asongan ini harus berjalan dari gerbong ke gerbong untuk mencari rezeki namun beliau masih tetap menyisakan kepada orang lain. Subhanallah…