Alas Purwo, Antara mistis dan Pesona Keindahannya

Alas purwo termasuk salah satu kawasan taman nasional yang ada di jawa Timur.  Alas Purwo terletak di Kabupaten Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa. Taman nasional ini terkenal oleh karena keangkerannya. Banyak cerita mistis yang beredar seputar keangkeran alas purwo. Bagi orang jawa alas purwo merupakan salah satu tempat favorit melakukan “lelakon”. Mitos lain mengatakan bahwa di daerah alas purwo tinggal manusia kerdil.

Alas purwo merupakan salah satu trilogi tempat wisata di Kabupaten Banyuwangi. Banyak obyek menarik di kawasan ini. Salah satu yang terkenal adalah pantai Plengkung. Pantai ini dianggap salah satu pantai dengan ombak terbaik di dunia. Surga bagi para peselancar.

Setelah “menyelesaikan” kawasan Taman Nasional Meru Betiri, kami menuju ke Alas purwo sekaligus berpamitan dengan ibunya Faiz yang selam 3 hari telah menjamu kami dengan sangat luar biasa. Perjalanan sendiri memakan waktu 3,5 jam. Kami menuju ke Alas Purwo dengan menggunakan mobil elf. Jalan menuju ke Alas Purwo bergelombang dikarenakan tanah yang bergerak.

Memasuki alas purwo tepatnya di kawasan kalipait kami bertanya kepada seorang pejalan kaki apakah jalan yang kami tempuh benar. Orang tersebut hanya menjawab “yo” tetapi langsung orang tersebut meminta imbalan. Baru kali ini saya tahu ada orang yang memasang tarif untuk jasa penunjuk jalan. Tampaknya tak ada yang gratis bagi masyarakat sekitar alas purwo. Berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya mereka juga tampak cuek dan acuh tak acuh. Ya, semoga kesimpulan  yang saya buat ini salah.  Tak lama kemudian perjalanan kami dihentikan seseorang yang berjalan ngesot dari tepi jalan. Orang tersebut tampaknya mengalami gangguan jiwa. Karena duduk di sebelah jendela, aku dapat melihat jelas penampilan orang tersebut. Sepintas terdapat keanehan dengan orang tersebut. Rambutnya memanjang tetapi digulung dengan pola tertentu. Matanya melotot dan bibirnya komat kamit dan terkadang mendesis. Si supir (kakaknya Faiz) bilang mungkin orang tersebut gagal melakukan “lelakon” sehingga “lalijiwo” (lupa jiwa).

Perjalanan kami lanjutkan. Di tengah perjalanan terjadi insiden. Mobil elf yang kami tumpangi terperosok ke tepi jalan dan menghantam pangkal pohon. Kebetulan benturan itu terjadi di sebelah tempat dudukku di depan. Mobil langsung berhenti dan pintu depannya “penyok”. Kaca pintu samping juga pecah. Kami berhenti sejenak untuk memperbaiki keadaan mobil. Kaca yang pecah dibersihkan sekalian serta pintu yang penyok di ratakan apa adanya biar tidak mengganggu perjalanan. Kejadian ini menimbulkan sedikit ketakutan bagi sebagian anggota rombongan apalagi dikaitkan dengan mitos angkernya alas purwo. Namun, tidak lama kemudian suasana kembali seperti biasa dan kami melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami sampai ke pintu masuk taman nasional Alas Purwo. Biaya retribusinya sebesar 6000 per orang. Tujuan kami yang pertama adalah pantai plengkung. Pantai yang terkenal akan keindahan ombaknya. Sebelum ke Plengkung kami harus menembus hutan menuju ke pantai pancur. Dari pantai pancur perjalanan diteruskan dengan mencharter mobil pick up. Sebelumnya kami menunaikan sholat dhuhur dan ashar (jama’) di masjid al-purwo. Sambil menunggu antrian toilet dan wudhu kami mengamati seseorang yang mungkin penjaga masjid atau petapa  yang sedang duduk di pojok halaman masjid. Rambutnya panjang dengan udeng di kepalanya. Bajunya serba hitam. Terlihat mistis pokoknya.

Karena hanya muat untuk 10 orang kami harus bergantian naik pick up. Saya memilih menjadi rombongan yang kedua. Jarak tempuh dari pancur ke plengkung sekitar 12 km. Supir pick up bilang mungkin waktu tempuhnya sekitar 30 menit. kemudian rombongan pertama berangkat. Sambil menunggu saya tidur dulu di pelataran pantai pancur sedangkan beberapa teman yang lain melihat-lihat keindahan pantai pancur. Di pantai pancur terdapat muara sungai yang menuju ke laut dengan pohon-pohon besar di sampingnya menjadi atap dari sungai. Rindang dan indah. Sayang di bagian pasir pantainya yang putih bertebaran sampah.

Hampir 2 jam lebih pickup yang mengantar rombongan pertama baru kembali. Dilihat dari waktunya kami khawatir jika kami ke plengkung waktunya tidak mencukupi karena setelah ini kami berencana melihat banteng dari menara. Banteng biasanya berangkat ke padang rumput pagi hari jam 6-7 dan kembali dari pukul 5-6. Oleh karena itu kami tidak mau membuang-buang waktu di pantai plengkung. Setelah melewati jalan becek dan menurun rombongan 2 sampai di pantai plengkung. Ternyata pantainya tidak seindah yang dibayangkan. Kami kurang beruntung karena kami datang tidak tepat pada musim berselancar. Kami langsung saja kembali ke pancur. Untuk menghemat waktu sebagian dari rombongan kembali ke pancur dengan menggunakan grandong. Kendaraan berdiesel untuk mengangkut bambu. Saya sendiri memilih naik grandong dan duduk di bangku depan. Melihat keindahan alas purwo dengan cara sedikit berbeda.

Pukul 16.30 kami sampai di pantai pancur. Kami melanjutkan perjalanan ke menara observasi banteng dan satwa liar lainnya. Letaknya dekat dengan pintu masuk ke taman nasional alas purwo. Di tengah perjalanan kami melihat sebuah pohon besar (diameternya mencapai 5 m) tumbang di pinggir jalan. Bekas akar tersebut membuat sebuah lubang yang cukup besar. Berbeda dengan karakter hutan di meru betiri, hutan di alas Purwo relatif lebih tipis dan sebagian merupakan hutan buatan terutama bagian yang mendekati pos penjagaan.

20 menit perjalanan kami sampai di menara untuk observasi banteng.  Kawasan Alas Purwo memang area khusus untuk menjaga kelestarian banteng. Banteng di sini dibiarkan bebas di suatu sabana yang luas. Para penjaga membuat pagar tertentu dan menara untuk observasi. Setelah registrasi kami langsung menuju ke menara tersebut. Beruntung bagi kami datang di waktu yang tepat sehingga dapat melihat banteng liar dengan jumlah yang lumayan banyak.  Ada perbedaan antara banteng jantan dan betina. Selain ukuran warna rambut banteng jantan hitam gelap sedangkan yang betina kecoklatan seperti sapi bali.  Selain banteng dari menara tersebut terlihat satwa-satwa yang lain seperti burung merak dan burung alalp-alap yang sedang terbang. Sabana yang membentang dibatasi oleh bukit dengan hutan yang lebat. Pemandangan yang sudah sangat jarang di pulau jawa dan semoga kelestariannya selalu terjaga. Pukul 17.35 kami harus meninggalkan alas purwo. Untuk selanjutnya makan-makan di nenek dan sepupunya Rendra. Alhamdulillah makan gratis lagi. Selepas itu, kami harus berpisah ada yang kembali ke Surabaya ada yang melanjutkan perjalanan ke Bali dan Lombok termasuk saya di dalamnya.






About these ads

About pipsaputra

mahasiswa kedokteran fk unair angkatan 2008...

Posted on February 12, 2012, in Outdoor And Adventure. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. mencomot fotoku ooon -_-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: